Selasa, 13 Mei 2014

PEMERINTAH DESA HARUS MENINGKATKAN PROFESIONALISME DAN KUALITAS PELAYANAN KEPADA MASYARAKAT

SUKOHARJO - Untuk mendukung penerapan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, perangkat desa harus meningkatkan profesionalisme dan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Hal tersebut terungkap dalam sambutan Bupati Wonosobo pada acara Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa dan  Sosialisasi Peraturan Bupati Nomor 42 Tahun 2014 Tentang Pedoman Penyusunan Hari Kerja dan Jam Kerja Kepala Desa Serta Perangkat Desa bagi Kepala Desa dan Perangkat Desa Se-Kecamatan Sukoharjo (13/5).

Dalam acara yang menghadirkan seluruh perangkat desa Se-Kecamatan Sukoharjo tersebut, Bupati Wonosobo yang diwakili oleh Kabag Tata Pemerintahan Drs. Giri Atmoko, M.Si menyampaikan bahwa pemerintah desa juga harus cakap dalam pengambilan keputusan terutama dalam pengelolaan aset dan anggaran desa.


Hadir sebagai narasumber pada acara yang digelar di Aula Kecamatan Sukoharjo tersebut Kabid Perangkat Desa BPMD kabupaten Wonosobo, Retno Syafariati, S.Sos serta Kabag Humas Setda Kabupaten Wonosobo, Tri Antoro.

Dalam paparannya , Retno menekankan masih perlunya pemahaman mengenai tugas pokok dan fungsi kepada masing-masing perangkat desa, hal ini disebabkan masih banyak perangkat desa yang belum memahami sepenuhnya mengenai tugas dan tanggungjawab sebagai perangkat desa. " Tupoksi perangkat belum sepenuhnya dipahami oleh masing-masing perangkat sehingga distribusi pekerjaan di desa menjadi tidak merata," ujarnya.

Terkait dengan pemberlakuan Perbup Nomor 42 Tahun 2014 tentang hari kerja perangkat Retno menyampaikan bahwa untuk memaksimalkan kinerja perangkat desa dalam hal pelayanan kepada masyarakat, setiap perangkat desa wajib masuk kantor setiap hari mulai hari Senin-Sabtu. "Kepada perangkat desa yang akan meninggalkan kantor pada hari-hari kerja wajib membuat surat ijin kepada Kepala Desa, dan bagi Kepala Desa wajib membuat surat ijin kepada Camat,"Imbuhnya.

Pada acara tersebut juga disampaikan bahwa bagi perangkat desa yang tidak masuk tanpa keterangan selama 6 hari dalam sebulan maka pada bulan tersebut perangkat desa yang dimaksud tidak mendapat Tunjangan Tambahan Penghasilan.

Dalam kesempatan yang sama, Camat Sukoharjo, Mulyono mengharapkan bahwa dengan diterapkannya jam kerja perangkat yang baru maka kinerja perangkat dapat lebih meningkat," dengan diterapkannya Peraturan Bupati mengenai jam kerja perangkat desa dan kepala desa ini kami berharap kinerja perangkat khususnya di bidang pelayanan masyarakat dan administrasi dapat berlangsung lebih efektif dan maksimal," ujar Mulyono.

Pada acara Sosialisasi tersebut juga disampaikan motivasi kerja bagi perangkat desa serta Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik oleh Kabag Humas Setda Kabupaten Wonosobo, Tri Antoro.


Jumat, 28 Maret 2014

8 DESA LUNASI PBB SERENTAK DALAM 1 HARI

Masyarakat membayar  PBB di Balai Desa Gumiwang
SUKOHARJO - Hanya berselang 1 hari setelah Sosialisasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang dilaksanakan oleh Tim dari Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo yang dibarengi dengan pembagian SPPT, sebanyak 8 Desa di Kecamatan Sukoharjo pada hari Jumat (28/3) berbondong-bondong untuk melunasi tanggungan PBB secara serentak.

Kedelapan desa yang melunasi PBB serentak  ialah Jebengplampitan, Garunglor, Gunungtugel, Plodongan, Gumiwang, Sukoharjo, Kupangan, dan Pulus.

"Dari kedelapan desa tersebut ada yang sudah rutin mengadakan tabungan PBB seperti Gunungtugel namun sebagian besar masyarakat desa lainnya, berdatangan ke balai desa setempat pada hari tersebut untuk melakukan pembayaran,"ungkap Camat Sukoharjo, Mulyono. 

Penyetoran Pajak langsung kepada petugas dari Bank Jateng
Uang yang sudah terkumpul di masing-masing desa selanjutnya dibawa oleh perangkat desa ke kantor Kecamatan Sukoharjo untuk disetorkan kepada petugas dari Bank Jateng Cabang Wonosobo yang sengaja diundang pada hari tersebut untuk menerima setoran PBB dari masing-masing desa.

Program yang sedikit nyeleneh ini mendapat tanggapan positif dari Kades dan perangkat desa di wilayah Sukoharjo. Sejak dirintis tahun 2013 lalu ini, pada tahun ini mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun lalu, tercatat hanya terdapat 3 desa yang melunasi PBB dengan pola serentak, namun pada tahun ini mencapai 8 desa. 

Kades Plodongan, Yulianto, yang awalnya sempat meragukan program tersebut mengaku sangat mengapresiasi adanya program ini,"Awalnya kami ragu-ragu dengan program 1 hari lunas karena belum pernah diterapkan sebelumnya, namun setelah disosialisasikan ternyata tanggapan masyarakat cukup positif sehingga Plodongan dapat lunas dalam waktu 1 hari."

"Disamping itu dengan adanya program ini, tugas-tugas kami menjadi semakin ringan karena biasanya PBB menjadi tugas rutin yang sangat menyita waktu dan tenaga namun sekarang bisa diselesaikan hanya dalam waktu 1 hari,"imbuhnya.

Program 1 hari lunas PBB ini diadakan bukan tanpa alasan, disamping untuk meminimalkan penyimpangan, program ini juga bertujuan untuk mempersiapkan desa dalam menghadapi Dana Asli Desa (DAD) sebagai konsekuensi dari penerapan Undang-Undang  nomor 6 tahun 2014 tentang Desa kedepan. 

"Dengan digelontorkannya dana kepada desa oleh pemerintah pusat yang nominalnya dapat mencapai 1 milyar, kami mencoba untuk mengefektifkan pola kerja pemerintah desa, karena dengan dana sebesar itu,  tugas-tugas pemerintah desa akan menjadi semakin berat dan kompleks,"ujar Mulyono.

" Kami akan terus mensosialisasikan program ini kepada masyarakat sehingga kedepannya kami mengharapkan seluruh desa di Kecamatan Sukoharjo ini dapat lunas serentak dalam waktu 1  hari,"pungkasnya.










Selasa, 11 Februari 2014

KEBAKARAN DI TLOGO, 2 RUMAH LUDES DILALAP API


SUKOHARJO - Sebanyak 2 rumah di RT 1 RW 9 Dusun Plintaran Desa Tlogo Kecamatan Sukoharjo ludes dilalap si jago merah dalam peristiwa kebakaran yang terjadi pada hari Senin (11/2). Dalam hitungan menit rumah milik Naryanto (55) dan Wanto (28) ludes dilalap api.

Pemilik rumah yang merupakan bapak-anak tersebut pun hanya pasrah melihat rumahnya dilalap api. "Tak ada yang dapat kami selamatkan mas, semua habis terbakar," tutur
Naryanto, bahkan 3 ekor kambing miliknya tak luput dari keganasan si jago merah.

Peristiwa yang terjadi di siang bolong itu awalnya tak disadari si pemilik rumah, "Siang itu kami baru saja kembali dari kebun untuk beristirahat, namun tiba-tiba muncul asap yang disusul dengan kobaran api dari atap rumah, kamipun langsung bergegas keluar dari rumah dan berteriak memanggil warga,"ungkap Wanto. 

Seorang warga menuturkan bahwa kejadian  tersebut  berlangsung dengan sangat cepat karena seluruh bangunan terbuat dari kayu,"Api menjalar dengan sangat cepat karena rumah tersebut hampir seluruhnya terbuat dari kayu, apalagi ditambah dengan hembusan angin sehingga api dengan cepat membesar dan membakar seluruh bagian rumah,"Tutur Subiyo (32).

Warga yang mendengar teriakan kedua orang tersebut bergegas menolong untuk memadamkan api, namun tak banyak yang bisa dilakukan karena barang-barang yang terdapat di dalam rumah kebanyakan terbuat dari bahan yang mudah terbakar. Ditambah lagi karena lokasi terjadinya kebakaran tersebut jauh dari sumber air,"Warga terpaksa memotong pipa air minum untuk memadamkan api," imbuh Subiyo.

Api yang menjalar baru bisa dipadamkan sekitar 1 jam, beruntung api tak merembet kerumah di sekelilingnya.

Penyebab kebakaran diduga karena hubungan pendek listrik karena percikan api pertama terlihat pada instalasi listrik dirumah tersebut, " Dugaan sementara penyebab kebakaran tersebut karena arus pendek, "ungkap Aipda Rojikun, petugas dari polsek Sukoharjo yang ditemui ditempat kejadian.

Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu karena anggota keluarga yang lain sedang tidak berada dirumah pada saat kejadian, namun kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Camat Sukoharjo, Mulyono ketika ditemui di  lokasi menuturkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk meringankan beban korban kebakaran tersebut," kami telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial, PMI dan instansi lainnya untuk penyaluran bantuan, dan sampai dengan saat ini kami telah menerima bantuan untuk para korban berupa perlengkapan rumah tangga, mie instan dan sembako sedangkan untuk sementara para korban ditampung dirumah kerabatnya."

Senin, 23 Desember 2013

ANTISIPASI BENCANA ALAM, CAMAT SUKOHARJO DAN TIM SAR PANTAU TITIK-TITIK RAWAN BENCANA

SUKOHARJO - Curah hujan yang tinggi beberapa hari ini membuat beberapa wilayah di Kabupaten Wonosobo meningkatkan kewaspadaan. Salah satunya ialah Kecamatan Sukoharjo. Kecamatan dengan topografi wilayah yang sebagian besar terdiri dari perbukitan inipun meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam. 

Untuk memonitor perkembangan wilayah, Camat Sukoharjo, Mulyono, pada hari Senin (23/12) mengadakan sidak pada titik-titik rawan bencana seperti di Dusun Garung Cangak, Desa Garunglor dan Dusun Prumasan, Desa Kalibening,"Desa Garunglor, tepatnya di Dusun Garung Cangak menjadi prioritas utama karena di lokasi tersebut terdapat rekahan tanah yang terjadi sejak tahun 2012 lalu dan sampai sekarang masih sangat berpotensi menimbulkan longsor,"tutur Mulyono.

"Sesuai pantauan kami, masih terdapat pergerakan tanah di lokasi longsor lama dan juga kami temukan beberapa retakan-retakan baru di luar lokasi,"Imbuh Mulyono saat ditemui di lokasi pemantauan.

Dalam pemantauan kali ini, Camat Sukoharjo yang didampingi oleh Tim SAR Kecamatan Sukoharjo juga meninjau kesiapan lokasi pengungsian yang telah disiapkan apabila sewaktu-waktu terjadi bencana longsor.

Kesiapan antisipasi bencana juga ditunjukkan oleh warga Desa

Senin, 09 Desember 2013

DESA WISATA WORA-WARI, Geliat Mutiara Terpendam Di Ujung Barat Wonosobo

KECAMATAN Sukoharjo ternyata meyimpan segudang potensi yang bisa dibanggakan, tak hanya sukses mencetak rekor muri dengan Dodol Salak dan Kue Jipang Terpanjang maupun keberhasilannya mengantarkan Desa Plodongan menjadi Juara I PKK Tingkat Nasional, namun kecamatan “penjaga perbatasan” di ujung barat Wonosobo ini juga menyimpan potensi pariwisata yang sangat luar biasa.

Salah satu potensi pariwisata yang saat ini sedang menggeliat ialah dirintisnya sebuah desa wisata di wilayah ini yang saat ini mulai dikenalkan kepada khalayak dengan label Desa Wisata Wora-Wari.

Terletak di ujung barat Kecamatan Sukoharjo, dan dengan kondisi alam yang asri dan masih sangat “perawan”, tepatnya di desa Jebengplampitan, Desa Wisata Wora-Wari menawarkan berbagai daya tarik wisata yang sangat khas jika dibandingkan  daerah tujuan wisata lainnya.
Dimulai dari Gunungkarang, yaitu  sebuah bukit karang dengan ketinggian 650 meter diatas permukaan laut, kemudian agrowisata kebun salak, wisata ojek kebo dan learning sukoharjo serta salah satu wahana wisata yang baru dan pertama di Kabupaten Wonosobo yaitu wisata River Tubing. Untuk wahana wisata yang terakhir menggunakan aliran Sungai Tulis yang membentang disepanjang desa wisata ini.

Selain potensi alam diatas, daerah ini juga mempunyai berbagai potensi di bidang lain yang tak kalah istimewanya, antara lain kesenian lengger, kuda kepang, dan campursari. Disamping itu di wilayah ini juga banyak ditemukan benda-benda peninggalan sejarah.

Perkembangan daerah wisata ini dimulai sejak adanya program penggalian potensi desa yang digelontorkan oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo pada medio Mei lalu.  Sejak itulah masyarakat Desa Jebengplampitanpun mulai menggeliat untuk mengembangkan potensi desa yang selama bertahun-tahun tak terjamah.
”Desa Jebengplampitan sebenarnya mempunyai potensi yang sangat luar biasa namun selama ini tidak disadari oleh masyarakat setempat,”ungkap Kuat Mizan (40), salah satu pencetus berdirinya Desa Wisata Wora-Wari.

Dengan pendampingan penuh dari pihak kecamatan, masyarakat  Jebengplampitan mulai merumuskan dan merencanakan masterplan pengembangan desa wisata ini.

”Nama Desa Wisata Wora-Wari kami pilih karena nama tersebut kami anggap lebih eye catching mudah diingat dan mempunyai ikatan sejarah yang sangat kuat dengan Desa Jebengplampitan, “tutur Hermawan Animoro (29), pendamping dari Kecamatan Sukoharjo.

“Sedangkan konsep yang akan kami kembangkan di Desa Wisata Wora-Wari ialah konsep Back To Ndeso antara lain melalui Agrowisata, Ekowisata, Wisata Religi, Wisata Budaya,Wisata Sejarah, Wisata Edukasi dan juga Wisata Minat Khusus,”imbuh Hermawan.

“Suguhan yang kami sediakan disinipun serba Ndeso dan memanfaatkan potensi lokal, mulai dari pecel, urap, nasi jagung sampai hidangan-hidangan khas seperti “Kerne”,Salak Kukus, Salak Kemul dan hidangan khas lainnya,”Imbuh pria yang juga menjabat sebagai Kasi Pemerintahan Kecamatan Sukoharjo ini.

Pelan namun pasti, proses menuju desa wisatapun mulai berjalan. Mulai dari penyiapan regulasi, penyiapan SDM  pariwisata, penataan infrastruktur pendukung wisata maupun serta proses promosi.

“Untuk saat ini kami telah memiliki tim pengelola pariwisata sebanyak 10 orang yang terdiri dari perangkat desa, pemuda desa dan juga tokoh masyarakat.”ungkap Kuat
Tak hanya itu, pengelola Desa Wisata Wora-Wari juga menjalin kerjasama dengan pihak luar pada pengelolaan desa wisata ini,

”Saat ini kami telah bekerjasama dengan SAR Kecamatan Sukoharjo sebagai salah satu langkah pengamanan bagi pengunjung obyek wisata, terutama untuk wahana wisata River Tubing karena setiap pengunjung wahana tersebut wajib didampingi oleh Guide yang telah memiliki sertifikat pemandu maupun Water Rescue,” Tutur Kuat

“Disamping itu saat ini kami sedang dalam tahap proses MoU dengan pihak asuransi untuk memberikan rasa aman dan nyaman yang lebih kepada para pengunjung,”imbuhnya.

Untuk pelatihan pemandu wisata dan penyediaan homestay , pengelola desa Wisata Wora-Wari juga menggandeng praktisi dari Himpunan Pemandu Wisata Indonesia dan pelaku usaha homestay yang ada di Wonosobo

Proses perkembangan desa wisata wora-wari juga tak terlepas dari proses promosi yang menjadi syarat mutlak dalam memperkenalkan eksistensi desa wisata ini kepada khalayak.

”Untuk promosi saat ini kami lakukan dengan menggandeng pihak sponsor dari BMT Marhamah untuk pengadaan  berbagai media promosi  seperti leaflet, banner, dan spanduk, disamping itu kami juga melakukan promosi menggunakan media internet melalui Blog www.theworawari.blogspot.com serta fanspage di jejaring social facebook dengan alamat Desa Wisata Wora-Wari,” tutur Kuat.

Efek dari langkah promosi yang dilakukan oleh pengelola pariwisata ini cukup signifikan. Sejak pertama kali dikenalkan pada awal bulan Juni 2013, tercatat sebanyak 100 orang dari berbagai kalangan telah mengunjungi Desa Wisata Wora-Wari. Mulai dari pelajar, mahasiswa, PNS, sampai dengan pengusaha.

Daerah asal pengunjungpun sangat beragam, mulai dari Kabupaten Wonosobo sendiri, Magelang, Banjarnegara, Purbalingga, hingga ibukota Jakarta.

Masyarakat setempatpun mulai merasakan dampak positif dari meningkatnya pengunjung wisata,”warung-warung disini setiap harinya sepi pembeli,ramainya hanya pada saat pasaran saja, namun sejak dibukanya desa wisata, warung disini semakin laris,”tutur Sumiyati (30) salah seorang pengusaha warung di Desa Jebengplampitan.

Senada dengan Sumiyati, Misem(35) yang sehari-hari bekerja sebagai petani salak, saat ini mulai melirik peluang usaha lainnya,”Saya sedang mencoba untuk membuat Dodol Salak, dan Sirup Salak, semoga kedepan bisa menjadi oleh-oleh khas dan menambah penghasilan keluarga.”


Kreatifitas dan peran serta warga dalam perkembangan desa wisata ini memang  harus terus dilakukan karena usaha di sektor pariwisata tidak mengenal istilah berhenti berkreasi.

Namun perkembangan pesat yang diraih oleh Desa Wisata Wora-Wari tak lepas dari berbagai hambatan, antara lain masih minimnya peralatan dan fasilitas pendukung pariwisata seperti warung makan, MCK, dan belum tersedianya Tempat Pengelolaan Sampah. Infrastruktur vital seperti jalan juga masih perlu ditingkatkan lagi.


“Sampai dengan saat ini untuk pengadaan peralatan dan penataan fasilitas pendukung serta pengembangan SDM pariwisata kami lakukan secara mandiri melalui swadaya masyarakat, serta pendampingan penuh dari pihak kecamatan namun kedepan kami mengharapkan dukungan dari berbagai pihak mulai dari Pemerintah maupun dari pihak swasta untuk mendukung perkembangan Desa Wisata Wora-Wari ini, “Pungkas Hermawan. 

Kamis, 25 April 2013

LAGI, 1 DESA LUNAS PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DALAM SATU HARI

SUKOHARJO - Menyusul jejak sukses masyarakat Desa Suroyudan yang telah melunasi tanggungan Pajak Bumi dan Bangunan hanya dalam tempo 1 hari, kali ini desa Tlogo juga sukses melaksanakan program pelunasan PBB dalam 1 hari.

Dalam acara yang dihelat di balai desa Tlogo pada hari Kamis (25/4) itu berhasil menghimpun pajak sebesar Rp.96.088.211,- dari 4.725 wajib pajak atau seratus persen dari keseluruhan jumlah  PBB pada tahun 2013 ini. 

Hal ini cukup membanggakan mengingat pokok PBB desa Tlogo merupakan yang terbesar di Kecamatan Sukoharjo. " Ini merupakan suatu prestasi yang membanggakan mengingat pokok PBB desa Tlogo merupakan yang terbesar di Kecamatan Sukoharjo dan baru tahun ini dapat lunas awal hanya dalam waktu 1 hari,"ungkap kepala desa Tlogo Bambang Agus Wahyono. Dari jumlah pokok tersebut, sebanyak 293 wajib pajak dengan nilai pajak sebesar Rp. 8.784.957 tersebar di desa sekitar seperti Kalibening, dan Pucungwetan bahkan ada yang berdomisili di wilayah Kecamatan Watumalang.

Pada hari itu sebanyak 4.725 wajib pajak terlihat mengantri di balai desa untuk dapat membayarkan pajak bumi dan bangunan yang menjadi tanggungannya. Pada awalnya masing-masing wajib pajak membayarkan melalui perangkat desa yang bertugas sebagai kolektor dan setelah selesai langsung disetorkan kepada petugas dari Bank Jateng yang sengaja diundang untuk menerima setoran PBB.

"Kami sengaja mengundang Bank Jateng untuk dapat langsung menyaksikan proses pelunasan PBB di desa Tlogo, disamping itu juga untuk meminimalkan penyimpangan terkait dengan penarikan PBB di desa kami,"Imbuh Bambang.

Kasi Pemerintahan Kecamatan Sukoharjo, Hermawan Animoro , ketika ditemui di tempat acara mengaku sangat mengapresiasi langkah yang ditempuh oleh desa Tlogo ini, "Kami dari pihak kecamatan sangat apresiatif dengan kegiatan ini mengingat pada tahun-tahun sebelumnya desa Tlogo hampir bisa dipastikan melunasi PBBnya pada akhir tahun, jadi baru pada tahun ini dapat lunas awal hanya dalam waktu 1 hari saja."ujar Hermawan.

Menurut data yang ada di Kecamatan Sukoharjo, pada tahun ini terdapat tiga desa yang telah melunasi tanggungan PBB yaitu Gunungtugel,Suroyudan dan Tlogo.

"Kami mengharapkan langkah semacam ini dapat menjadi pemacu bagi desa lain di Kecamatan Sukoharjo untuk melunasi pajaknya  lebih awal,"Imbuh Hermawan.

Untuk menambah semarak acara, juga ditampilkan kesenian Dayakan dari Dusun Tugon desa Tlogo.






Selasa, 23 April 2013

HARI KEDUA UN DI DENA UPAKARA LANCAR

WONOSOBO - Memasuki hari kedua, ujian nasional tingkat SMP di SLB Dena Upakara berjalan dengan lancar. Sebanyak 6 orang siswa perempuan terlihat sangat serius mengerjakan soal Bahasa Inggris  yang diujikan hari ini (23/4).

"Pada tahun ini hanya terdapat 6 orang siswa yang mengikuti Ujian Nasional, menurun dari tahun lalu yang berjumlah 11 orang,"Ungkap Ketua Panitia Katarina Maria (48)."Hal ini  disebabkan karena jumlah siswa yang memenuhi kriteria untuk dapat masuk ke jenjang SMP menurun,"imbuh Katarina.

Untuk mengikuti ujian nasional kali ini, pihak sekolah mengaku tidak membekali para siswanya dengan persiapan khusus, hanya penambahan jam belajar seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah pada umumnya. 

" Jam belajar tambahan kami lakukan pada saat jam belajar harian, namun kalau biasanya dilakukan secara mandiri, khusus untuk persiapan ujian nasional kami laksanakan di bawah bimbingan guru."terang Katarina.

Jenis soal-soal yang diujikan disini tidak jauh berbeda dengan sekolah umum namun memang disesuaikan dengan standar Sekolah Luar Biasa. Para siswapun mengaku tidak menemui kesulitan yang berarti dalam mengerjakan soal."Soalnya cukup mudah, dan bisa dikerjakan semua,"tutur Danik (18) tahun dengan Bahasa Indonesia yang cukup fasih.

Prestasi yang diraih oleh sekolah ini boleh dibilang  membanggakan, karena setiap tahunnya siswa SLB Dena Upakara berhasil lulus 100 persen dan banyak diantaranya yang melanjutkan ke sekolah umum. Bahkan pada tahun ini seluruh siswa kelas 3 yang pada hari ini mengikuti ujian nasional telah berhasil lulus ujian masuk salah satu sekolah ternama di Kabupaten Magelang.

"Mereka tinggal mengusahakan hasil ujian nasional, dan apabila nilainya memenuhi syarat dapat langsung diterima,"pungkas Katarina.